Mana janji manismu?

Dulu kau selalu menebar janji-janji gula pada kami

Dulu kau selalu menjadi pahlawan kami

Kini kau kemana?

Janji manismu yang semanis gula itu kemana?

Menghilangkah janji itu?

Kemana hilangnya?

Dasar pembohong!

Sifat kepahlawananmu itu hanyalah topeng

Wujud aslimu bagaikan seekor tikus

Hanya bisa menggerogoti uang rakyat

Kau selalu menghamburkan uang

Rakyatmu bersuka ria

Kau masih punya mata, bukan?

Liat dengan jeli!

Banyak rakyatmu yang terlantar karena perbuatanmu

Wahai tikus pembohong

Sadarlah, perbuatanmu sangat hina

Di mata Yang Kuasa

Karya : Diajeng Kholifah Ayu Safitri

Iklan

Pengamatan Protista Mirip Hewan Oleh KIR SMAN 1 GLAGAH 2014/2015

Mengamati Protista Menyerupai Hewan 

Pada Air Kolam Patung Ganesha Dan Air Got Depan Kelas X IA 3

Hari/tanggal: Kamis, 22 Januari 2015
Tempat pengamatan: Laboratorium Biologi SMA NEGERI 1 GLAGAH

Tujuan pengamatan :

Untuk mengetahui adanya protista menyerupai hewan pada air kolam patung ganesha dan air got depan kelas X IA 3. Dan juga mengetahui organisme lain yang tumbuh pada air kolam patung ganesha dan air got depan kelas X IA 3.

Alat dan Bahan :

Alat :
– Mikroskop digital
– Kabel data
– Laptop.
– Kaca preparat
– Kaca penutup
– Pipet tetes

Bahan :
– Air kolam ikan patung Ganesha SMA NEGERI 1 GLAGAH
– Air got depan kelas X IA 3

Cara Kerja

Pertama siapkan mikroskop digital untuk melihat hasil pengamatan, dapat juga menggunakan mikroskop biasa. Namun, karena pada percobaan ini menggunakan mikroskop digital untuk menghasilkan tampilan lebih jelas. Ambil satu tetes air kolam menggunakan pipet tetes ke kaca peparat. Lalu, setelah itu ditutup menggunakan kaca penutup. Letakkan pada mikroskop digital, usahakan agar perbesaran 4x terlebih dahulu. Setelah itu, maka terlihat ada protista menyerupai hewan yang berenang. Lalu, perbesar 40x. Atur fokus dan perbesaran agar kita pun mampu mengetahui hasilnya

Hasil Pengamatan

Terdapat bermacam-macam organisme, seperti hewan yang sedang berenang. Lebih tepatnya seperti jentik. Terdapat pula vakuola makanan yang terlihat. Dan pula ganggang volvox dan oskilatoria. Dan spyrogyra.

Penutup

Bahwa dalam kolam ikan ganesha terdapat banyak organisme yang hidup didalamnya. Seperti protista yang menyerupai hewan, bermacam-macam ganggang, dan masih banyak lagi.

OLEH :

RIAN IRAWAN                                       (X IA 5)

DIAJENG KHOLIFAH AYU S.              (X IA 5)

BIMA FAUZAN                                       (X IA 1)

PERKUMPULAN KARYA ILMIAH REMAJA SMA NEGERI 1 GLAGAH

Mel, gadis berjilbab terpopuler di Youtube

Lamb of God – ‘Hourglass’ covered by Mel

Video di youtube yang sangat ini sedang banyak diperbincangkan banyak orang karena kehilaihannya memainkan gitar listriknya itu. Wanita asal Bandung yang duduk di bangku SMA itu sangat ahli dalam memainkan setiap irama hardrock.

Video yang diunggah pada 13 Maret 2014 itu menampilkan talentanya dalam bermain alat musik. karena kelihaiannya itu, tak heran pada situs account youtubenya dilihat lebih dari 900 ribu orang hingga saat ini.

Alangkah amat luar biasa melihat bakat remaja berjilbab asal Indonesia yang sangat membanggakan. patut bagi mereka yang harus merasa malu ketika mereka yang mengaku cinta dan menampilkan gaya hardrock pada penampilan sehari-harinya namun tak dapat mengekspresikan kegemarannya dengan baik.

Gadis yang biasa dipanggil Mel ini sampai ditampilkan di acara Hitam Putih yang amat sensanional. pada saat itu, videonya baru mencapai 10 ribu orang penonton. video ini pun menjadi pencarian terpopuler di Youtube hingga saat ini.

selain video lamb of god hourglass yang ia cover, ia juga mengcover lagu rock hits lainnya seperti BFMV Say Gooodnight dan masih banyak lagi.

THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS 5

Mentari muncul menunjukkan keindahan yang tampak amat mempesona. Kuning berhiasan kilau bak emas yang terpapar cahaya. Setengah bola muncul dihadapan bumi demi menyambut kehangatan yang ia berikan. Umat manusia yang berselimut, mulai menurunkan selimutnya yang terkalahkan oleh hangatnya suasana pagi di kota Banyuwangi. Rumah-rumah yang berjejer, tumbuh-tumbuhan bermekaran, embun yang mulai menyadarkan dirinya di tubuh sang penghijau kehidupan. Sang pemberi nafas kehidupan yang mulai berlari-lari menangkap setiap tubuh makhluk hidup, menyelimutinya dan meresapkannya kedalam setiap raga yang bernyawa.

Itulah yang pemandangan yang selalu di lihat Ryan ketika ia terbangun di atas hamparan pulau kapuknya. Mengangkat tangan keatas sambil membuka mulut dan menguap. Hehe. Itu yang selalu ia lakukan. Dan kala ia melihat seberkas cahaya mentari mulai akan menemuinya. Ia langsung bergegas menyambutnya dengan senyuman. Ia yang selalu kagum akan bagaimana tuhan telah merangkai satu demi jahitan bumi ini dengan amat rapi dan kokoh. Setiap yang bernyawa akan hendak berseru atas kebesaran ketika mereka melihat pesona ini.

Tak dipungkiri bahwa merekalah yang menyeru dan tuhan mereka pun yang menerima dan menghadiahkan akan setiap ikhtiar yang mereka lakukan. Dan tuhan pun membuat setiap rajutan ini dengan amat berguna. Sekalipun merugikan, itu hanya untuk pengingat akan setiap raga untuk menyadari akan fatalnya dusta dan khianat kepada tuhannya.

Memang jika dilihat amat menyedihkan ketika bagi mereka yang bernyawa harus melihat kegelapan bumi dan tak sempat meraasakan indahnya pesona cipta tuhan. Tapi itu hanya dari sisi mausia yang melihat dan mengempati pada mereka. Namun di sisi tuhan, ini bisa berarti dua hal, bencana dan cobaan. Ya begitulah, yang namanya hidup. Bencana akibat perbuatan mereka sendiri yang sering khianat pada tuhannya dan tak pernah mau bersyukur atas kenikmatan atas setiap raga tempat ia bisa hidup. Dan cobaan bagi mereka yang selalu berikhtiar dengan amat terlalu. Sehingga tuhan mereka ingin menguji apakah mereka akan tetap berikhitiar kepada tuhannya ketika mereka diberi musibah.

Itulah yang namanya siklus kehidupan, jika mau ya maka itulah yang dinamakan hamba tuhan. Yang percaya dan selalu berkeyakinan bahwa tuhan itu ada untuk mereka. Jika tidak ingin merasakan semua hal tersebut? ya jadilah kamu seperti mereka yang tak bernyawa. Hidup dalam kesepian. Ketika mereka tidak dapat merasakan hangatnya pagi karena mereka sibuk berdiam seraya memejamkan mata menolak setiap hawa yang mereka terima, karena tubuh mereka sudah terpatri rasa dingin an beku. Dan juga mereka yang tak bernyawa akan di tempatkan di kubur yang di kelilingi tanah liat. Dan juga belatung-belatung yang siap mengambil setiap cuil daging mereka hingga habis.

Itulah yang namanya saat dimana manusia haruslah menyadari bahwa setiap kehidupan yang mereka berika hanyalah sementara. Takkan kekal bagai bumi yang kuat mencakar, awan yang kuat menopang, gunung yang siap menyemburkan isi perut mereka. Manusia hanyalh mnkhluk tanpa daya yang hanya akan menunggu ajal ketika sudah waktunya. Hanya sesederhana itu, tapi akan menjadi sangat rumit ketika manusia ketika menjalani takdirnya masing-masing.

Menapaki setiap langkah, yang berbeda, untuk satu tujuan mencapai kehidupan yang mendapat rahmat tuhan di dunia dan akhirat. Menjelajahi setiap sela kehidupan yang ada. Terus berlari mengejar apa yang ada dibumi walau sampai lelah mencari dan mengjarnya. Dan mungkin juga hanya angan yang akan menjadikaan mereka sekedar dalam imajinasi khayalan, namun hanya perlu sadar bahwa tidaklah harus sempurna dan siap untuk mengejar angan itu, tapi kemauan untuk terus dapat mencapainya yang akan membuatnya mereka berhasil mendapatkannya.

Itulah namanya aturan kehidupan. Yang juga bagi binatang dapat mereka sebut dengan hukum alam. Siap yang kuat maka dialah yang akan menag. Berjuang demi satu tujuan yang sama. Berlari bersama, berjalan dan hidup bersama, tetapi cara berfikir mereka yang terkadang berbeda. Sehingga membantai sesama, mengelabui dan memakan sesama? Rasanya tak heran. Dan di jaman sekarang tak sekedar hewan dan binatang, namun mereka yang memepunyai nyawa pasti akan punya insting untuk dapat memakan sesama.

Dan kala ia sadar, bahwa Ryan telah bermenung sampai fajar menyingsing? Itulah kala ia sadar bahwa ia juga manusia yang punya angan, insting pula.

THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS 4

Mentari masih enggan menyambut bumi. Masih tidur di peradabannya. Embun yang masih malu menampakan hasrat menemui daun-daun bergelantungan ditanah. Awan yang masih gelap ditemani hawa dingin menyerat tubuh. Angin yang berhembus membuat Ryan terbangun dari tidurnya. Dingin yang tak dapat di elakkan, membuat hati selalu ingin terbangun dari peristirahatan. Ryan yang serentak terbangun di kala suara neneknya terdengar memanggil namanya terus-menerus. Dan suara itupun diikuti Ryan hingga mempertemukannya dengan neneknya. Nenek Ryan yang tampak dengan muka suntuk, sudah bangun sepagi ini karena neneknya harus berjualan rujak. Neneknya harus mempersiapkan keperluan untuk berjualan. Dan akhirnya dengan adanya Ryan terbangun membuat neneknya memiliki kesempatan untuk menyuruhnya membantu menyiapkan jualan neneknya. Ryan yang masih amat enggan membuka matanya, sudah terdengar kembali suara neneknya yang memerintahkannya untuk membeli pisang kluthuk (pisang yang masih muda berwarna hijau; biasanya untuk racikan bumbu rujak), cukulan (kecambah dalam bahasa indonesia) dan timun atau mentimun di pasar blambangan. Ia pun terhentak menunduk mendengar perintah neneknya tersebut. Ia lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dengar air keran. Dan ia juga mengosok giginya. Setelah selesai, lalu ia mulai mengeluarkan sepedanya untuk berangkat ke pasar blambangan.

Setelah sampai di pasar, ia pun membeli keperluan yang diperlukan oleh neneknya tadi. Dan ketika ia sedang mencari penjual timun, ia bingung dimana letak penjual tersebut. Ketika ia menghadap ke kearah kirinya, akhirnya ia melihat sosok nenek tua yang biasa disebut neneknya dengan nama Nyai. Ia memang amat terlihat bak Nyai dengan baju sederhana yang membungkus tubuhnya. Akhirnya ia bergegas menemui Nyai tersebut. Dan setelah semua keperluan sudah selesai dibelinya, ia lalu bergegas pulang. Ryan yang mengayuh sepedanya dengan giat menaiki jalanan yang cukup menanjak. Sesampainya ia di rumah, ia yang menyerahkan semua keperluan jualan neneknya di dapur. Neneknya pun berterima kasih kepada Ryan. Lalu Ryan duduk lelah di kursi. Dan semenit berlalu, membawa Ryan kedalam lamunannya.

Ia termenung ketika ia menyadari bagaimana hubungan kemasyarakatannya. Ia kembali termenung dalam suasana dimana ia sangat lengang untuk memikirkan apapun. Hal ini membawanya ke dalam saat dimana ia harus mengantri dengan neneknya yang sudah berumur untuk mengambil bantuan sosial di kantor pos. Neneknya yang tampak berkumpul dengan kenalannya menunggu saat dibukanya antrian. Lalu Ryan yang berinsiatif untuk duduk di kursi tersebut terlebih dahulu. Ia pun menjadi urutan pertama seandainya antrian telah dibuka. Dan neneknya pun mengajaknya untuk makan bakso terlebih dahulu. Ryan pun terpaksa harus meninggalkan kursi antrian tersebut dan bergegas menyusul neneknya. Ia pun menikmati bakso seharga 8000,- tersebut walaupun mahal namun tidak terlalu sedap. Namun dengan giatnya ia makan bakso tersebut dan berharap ia akan bisa mengantri pertama kembali. Namun sayang ia tidak berhasil, ketika ia kembali ke antrian, kursi sudah amat penuh diduduki orang yang baru datang. Neneknya dan dirinya harus sabar duduk diantrian belakang. Ia sangat kesal dengan hal itu, ia sempat kesal dan marah ke neneknya kenapa tadi harus meninggalkan antrian tersebut. Dan akhirnya ia menunggu, sepertinya petugas belum siap dana tersebut dibagikan sehingga harus menunggu dana siap ada di kantor pos. Ryan menunggu cukup lama bersama para penerima dana lainnya. Ia melihat ada seorang bapak yang terlihat amat menjadi bos untuk mengatur antrian tersebut. Bapak tersebut dilihat Ryan amat menonjolkan sikap sombong. Ia hanya sibuk menelepon dan berbincang dengan petugas lainnya. Ia menunujukkan senyum kepada para penerima bantuan seperti senyuman merendahkan. Ryan sangat tidak nyaman dengan hal itu. Ia amat benci kepada bapak tersebut. Ia juga tidak suka cara kepemimpinannya dalam mengatur antrian tersebut. ketika loket telah dibuka, bapak tersebut mulai mengatur antrian ia mengambil 4 baris kursi depan terlebih dahulu. Dan akhirnya ketika antrian yang harusnya bergeser, malah jadi ricuh. 4 baris kursi yang kosong malah diisi 8 baris kursi. Orang-orang yang curang mengisi seenaknya dengan tidak bergeser tapi melompat kedepan. Petugas dan bapak sombong tersebut membiarkan hal itu terjadi. Ibu-ibu yang masih muda berebut untuk sampai di kursi depan, bapak-bapak yang masih amat gagah menyalip nenek-nenek yang tua. Begitupun dengan nenek Ryan. Neneknya disalip terus menerus oleh kalangan yang lebih muda. Ingin rasanya menggantikan maupun ikut mengantri bersama neneknya tapi ia amat malas atas kejadian tersebut. akhirnya ia lebih mememilih keluar barisan dan membiarkan neneknya yang mengambil dana bantuan itu, karena ia sadar ia tidak punya hak untuk mengambil dana tersebut.

Kemudian ketika harus bergeser kembali, neneknya pun mengalami tekanan karena tidak dapat pindah dari duduknya karena dihalangi oleh orang yang baru datang namun mendahului. Akhirnya yang terjadi malah yang baru datang, dengan seenaknya dapat antrian pertama dan selesai lebih dahulu sedangkan neneknya yang mengantri mulai awal sampai saat itu belum juga dapat kesempatan maju. Ryan pun menjadi geram. Ingin rasanya ia mengajukan saran pada bapak yang sombong tadi untuk mengatur sistem absensi saja. Jadi tak menjadi masalah jika entah orang yang duduk di depan maupun di belakang sendiri, selagi ia sudah absensi maka pasti akan dipanggil. Kalau seperti ini maka nasib neneknya belum tentu akan dapat antrian pertama kapan. Ryan sedih melihat neneknya dan para penerima dana lainnya yang merasa ditindas dengan kejadian ini. Seperti tidak dihargai. Akhirnya pada saat antrian selanjutnya ia berfikir harus melakukan tindakan. Ia lalu maju dan bilang kepada bapak sombong tersebut. Ia mengatakan “pak, mohon maaf, saya mau usul, bagaimana jika ini diabsen aja jadi…” belum sampai selesai Ryan berbicara lalu bapak sombong itu dengan kejam berkata “terima kasih atas usulannya! Kami sudah melakukan hal itu, lalu silahkan anda langsung menemui ketua yang ada disana!” sambil menarik tangan Ryan dengan amat keras. Ryan yang pada saat itu amat malu dan merasa dipermalukan dengan hal tersebut. buka karena tindakannya yang amat berani tersebut namun karena sikap bapak sombong tersebut yang membuat suasana ricuh para penerima, yang tadinya berfokus untuk merebut antrian malah seketika hening dan duduk terdiam dan penasaran atas teriakkan bapak sombong tersebut kepada Ryan. Akhirnya Ryan yang menjadi amat malu tersebut terpaksa menemui bapak ketua yang tadi dimaksud. Pertama pada saat awal ketemu ia menjadi amat malu. Namun, karena menurutnya ini sudah kepalang basah, ia pun berfikir harus mengutarakan apa yang menjadi ketidak adilan. Ia pun sambil bergetar bibirnya dan hampir meneteskan air mata, ia menceritakan hal tersebut. ia menceritakan hal tersebut dengan amat rasa malu karena seakan para penerima dana tersebut juga ikut memperhatikannya. Dan akhirnya ketua tersebut mengerti dan meminta maaf kepada atas pelayanan yang tidak memadai tersebut. Ketua tersebut akhirnya mengurusi dana bantuan neneknya.

Sejenak ia merasa bangga karena akhirnya ia dilayani langsung. Tapi secara bersamaan, ada seorang nenek-nenek pula yang tadi mengantri tepat disamping Ryan. Lalu pada saat mereka bertemu di loket, nenek tersebut berkata “kamu tadi perasaan yang antri disamping ya, nak. Kamu ini bagaimana sih nak” sambil mengeluarkan senyum sinis. Ryan langsung menjadi malu dan merasa bersalah pada dirinya sendiri, kenapa ia harus bertindak seperti tadi. Dan waktu ia melihat sekitarnya, orang-orang menurut Ryan seperti melihat aneh kepadanya. Hal itu membuat rasa malu Ryan bertambah. Dan setelah semua dana telah selesai diurus, nenek dan Ryan bergegas meninggalkan tempat tersebut seraya berpamitan pada ketua yang telah baik hati terhadapnya.

Lalu Ryan dan neneknya pun meninggalkan tempat tersebut dengan beberapa ratus ribu dana bantuan. Ryan yang masih setengah gemetar memikirkan kejadian tadi. Bagaimana tidak. Disana ada banyak warga yang ia kenal melihat kejadian tersebut. Ryan tak akan mampu memikirkan apa yang mereka pikirkan tentangnya, setelah apa diperbuat Ryan tadi. Ryan merasa seperti anak kecil yang suka memerintah, tidak berguna. Sesampainya ia dirumah, ia langsung tidur. Dan menyesali apa yang telah diperbuatnya.

Dan kala itu, tersadar dari lamunannya yang miris tersebut. Ia masih sangat kesal dan malu dengan peristiwa tersebut. Kala ia ia sadar, ia menjadi amat terbuka dan menjadi amat bergetar hatinya ketika ia sadar bahwa ia masih memikirkan kejadian sampai saat ini.

“ketika kita merasa harus melakukan keadilan, terkadang ada pengorbanan dan rasa malu yang harus diterima”

By THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS

Senin, 29 Desember 2014

Banyuwangi

6:48 am

THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS 3

Siang bersama terik matahari menahan tubuh untuk terus tegap merasakan panas yang menusuk. Angin yang membawa keramaian suasana perkotaan Banyuwangi menjadi senyap, tak ada yang mampu mengelakkan sebuah keterikatan. Terlihat pussy yang sedang tidur telentang membaringkan tubuh kecilnya yang putih ke lantai rumah tuannya. Siang memang waktu orang beristirahat, sekalipun kucing mungil yang bersantai ikut terlenyap dalam suasana hingar bingar ini. Nenek Ryan yang sedang berjaga selagi berikhtiar menunggu rizky datang atas rahmat Allah, untuk ada orang yang membeli jualan rujak neneknya. Sayup mata terlihat dari nenek Ryan, namun hati kokoh untuk memperjuangkan kebutuan sehari-hari terus dipegang teguh dalam hati nenek. Budhe Ryan yang terlihat tidur dengan gelisah sambil sedikit merasakan raungan bosan dan kantuk dari kamarnya.
Pada saat itu, di teras, Ryan yang duduk bersilah dikala terik menghadang di luar rumahnya dan panas menyergap tubuhnya. Ia terjaga melihat setiap motor yang lewat dengan segala urusan mereka. Setiap mobil yang melaju cepat dengan setiap bisnis mereka. Mata yang mengalami lelah karena terus terjaga membuat larut dalam lamunannya. Dalam dimensi lamunannya, ia berhenti pada suasana ketika ia mengikuti persiapan lomba silat yang diadakan di GOR Tawang Alun. Terlihat para temannya yang sedang berlatih serius dengan iringan pelatih. Anak-anak kecil yang masih belum memiliki kesempatan ikut lomba, melihat dengan seksama temannya yang sedang berlatih untuk lomba nanti malam. Terlihat Ryan yang masih terus berlatih untuk hand stand pada gerakan selanjutnya. Ia sebenarnya telah mempelajari semua gerakan. Namun ada beberapa gerakan yang masih belum ia kuasai. Ia terus berlatih untuk hand stand. Lalu, ia merasa ia kurang handal untuk roll depan di lantai maupun matras keras. Ia merasa tak mampu, ia merasa pasrah dan menganggap remeh hal itu. Ia terus saja berlatih untuk bisa. Di jam-jam terakhir menuju lomba, ia sempat pada saat malam ia bersikeras untuk bisa menguasai gerakan tersebut. Sampai ia hampir putus asa, karena ia merasa ia sudah mengeluarkan kemampuan fisiknya secara maksimal. Dan akhirnya ketika harus siap berlomba, ia pun terpaksa mengikuti lomba tersebut dengan rasa cemas dan khawatir. Ia merasa sudah mengeluarkan masa latihan yang maksimal untuk hal ini. Dan pada saat lomba, Ryan memikirkan banyak hal disekitarnya. Mengenai orang tuanya yang tak dapat datang sedangkan teman lainnya yang mengikuti lomba didukung penuh oleh orang tua mereka. Inipun salahnya pula, karena ia tidak pernah cerita kapan ia akan berlomba, ia hanya bilang ke ayahnya bahwa ia ikut lomba tanpa memberitahukannya kapan hal tersebut terjadi. Ia juga memikirkan hal buruk yang mungkin nanti akan terjadi seperti tak bisa hand stand, pisau untuk permainan silatnya terjatuh di matras dan hal lainnya. Ia terus saja memikirkan hal buruk tanpa fokus pada lomba sedikitpun. Dan pada saat lomba berlangsung, Ryan mulai beraksi menampilkan pertunjukan silatnya dihadapan seluruh orang yang memenuhi aula GOR Tawang Alun. Saat gong mulai dibunyikan ia mulai beraksi bermain silat seni. Ia pun melihat para juri menilai kemampuan silatnya. Lalu, pada saat ia harus melakukan gerakan handstand ia akhirnya berani melakukannya dan lumayan melegakan karena tidak mengecewakan.
Dan juga, ketika ia harus melakukan gerakan rolling depan. Itulah detik-detik yang paling menyita waktunya karena ia harus mengambil ancang-ancang. Dan karena posisi tengkuk pundaknya yang tak siap dan juga tangannya tak menopangnya untuk roll ia malah tak berhasil melakukannya. Ia kecewa sedangkan pelatihnya yang berada didepan terus melambaikan tangannya menandakan ia untuk terus bergerak, namun tidak. Yang dilakukan Ryan malah ia berusaha roll sekali lagi namun tidak berhail untuk kedua kalinya. Ini yang membuat lomba ini menjadi kacau. Para penonton yang menyorakinya. Banyak yang merendahkannya. Ada juga yang meneriaki dengan lantang “huuuu… pulang saja kerumahmu pecundang!!!” itu sangat menyayat hatinya. Ia akhirnya meneruskan gerakannya karena ia baru sadar akan hal tersebut. Dan sambil meneruskan gerakannya, ia sejenak berkata dan merenung dalam hati “ini salahku, aku yang memulai kekacauan ini. Aku kurang berusaha kuat. Aku tidak berlatih. Aku meremehkan lomba ini. Allah memberi bencana padaku. Ini semua salahmu Ryan !!!” dan kata terakhir dalam hatinya itu yang membuat hatinya rapuh dan meneteskan air mata. Dan setelah bunyi gong tanda telah berakhir, Ryan masih melanjutkan gerakannya yang masih belum selesai. Dan setelah 2 menit berlalu, ia barulah menyelesaikan gerakannya tersebut. Ia sangat malu. Tak ada satupun tepuk tangan yang diberikan untuknya. Ia merasa amat malu. Saat ia berjalan kembali ke tempatnya, para panitia lomba melihat sinis padanya. Semua orang membicarakannya dengan bisik-bisik. Dan ketika ia telah berada di tim silatnya. Ia malah tidak digubris oleh temannya. Ia malah dicemooh “hoo.. Ryan iki elekan lek main ak!” (hoo.. Ryan ini jelek mainnya ya!”) itulah yang temannya katakan. Ryan merasa malu karena telah mengecewakan nama baik perkumpulan silatnya. Ia hanya terdiam dan terpaku atas peristiwa tadi. Dan ketika itu pelatih bilang dengan lantang kepada teman Ryan yang juga akan mengikuti lomba di sesi berikutnya “itu akibatnya kalau belajar silat ala kadarnya!!” saat itulah kerapuhan yang paling dalam dirasakan oleh Ryan. Ia yang telah berusaha selama ini menghafal gerakan, bersungguh-sungguh lomba, sampai ia mengorbankan waktunya. Waktu dulu ia sampai pulang tengah malam dengan berjalan kaki karena ayahnya yang tidak menjemputnya setalah latihan persiapan lomba silat. Ia mengorbankan untuk terus dapat latihan sampai ia mengorbankan waktu belajar, makan, dan waktu bersama keluarganya. Itu semua demi lomba yang amat penting ini baginya. Ia merasa pelatih yang akan mensupportnya ketika ia jatuh ke dalam jurang yang amat curam. Namun tidak! Pelatihnya malah memperdalam jurang tersebut sampai dasar, hingga Ryan yang dulu bersemangat menjalani sesuatu, menjadi ragu dan terpuruk akan menjalaninya.
Itulah Ryan yang masih terjerumus kedalam jurang curam tersebut sampai sekarang. Ia lalu tersadar dari lamunannya. Dan ia tersadar bahwa ia tak akan bisa naik dari jurang tersebut.

“Pernahkah kalian jatuh dari suatu kesalahan dan tak dapat bangkit bagai orang lumpuh yang kehilangan semangatnya untuk menggerakkan kakinya? Itulah yang saya rasakan sampai sekarang”

By THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS
Kamis, 01 Januari 2015
Banyuwangi
09:26 am

THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS 2

Mentari terik mulai hilang ditutupi awan kelabu pertanda mendung tiba. Dan cahaya matahari mulai surup, pertanda warna jingga dari atas langit mulai nampak. Mentari yang kembali keperadabannya. Burung yang mulai berjalan kembali ke tempatnya. Dedaunan yang mulai menutup diri enggan muncul kala kelabu mengitari bumi. Rintik hujan yang mungkin siap turun membasahi bumi, seiring keramaian kota Banyuwangi yang mulai nampak surut. Pengkayuh becak yang mulai bergegas pulang untuk beristirahat di istana indah mereka.

Terlihat nenek Ryan yang mulai mengemasi lapak jualannya karena cuaca yang terlihat tak mendukung untuk terus melanjutkan jualannya. Ryan yang membantu mengemasi jualan neneknya pun dengan giat mengangkat barang-barang jualan. Setelah selesai, Ryan pun membereskan barang-barangnya. Lalu setelah semua selesai, nenek Ryan terlihat sedang bergegas mandi. Dan budhe Ryan yang terlihat sedang asyik menonton sinetron “Yuk Kita Nikah” di RCTI. Dan Ryan pun sejenak terpogoh duduk, di tepi ruang tamu. Dengan keringat yang sedikit mengucur, ia beristirahat melepas lelah ketika ia selesai membereskan barang-barangnya.

Tidak lama ketika ia beristirahat, ia memikirkan suatu hal. Ia memikirkan mengenai betapa buruknya ia ketika bergaul dengan teman sendiri. Dan semakin dalam ia memikirkan hal itu, membawanya pada renungannya. Dan dalam otak kecilnya, ia memikirkan masa lalunya ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Ketika itu, ia terlihat bersenda gurau dengan teman-temannya. Dan ketika itu, ia dipanggil oleh Selvy. Teman sebaya yang sudah berteman sejak  1 SD. Pertemanan mereka bisa dibilang persahabatan yang kuat. Ryan selalu menjadi teman curhat Selvy.

Dan pada suatu saat, Selvy curhat kepada Ryan mengenai kisah percintaannya. Selvy bercerita bahwa ia sedang suka pada salah satu pria di kelas sebelah bernama Rony. Tetapi ia tidak mau kalau hal itu disadari dan diketahui oleh banyak orang. Karena ia hanya menceritakan hal tersebut hanya pada orang-orang tertentu termasuk Ryan. Jadi ia menyuruh Ryan berjanji untuk tak menceritakan hal ini kepada siapapun. Dan hal itupun pertama berjalan wajar, sampai suatu saat dimana ada teman Ryan yang bernama Pita yang juga menyukai Rony. Akhirnya ia menjadi cemburu dengan Selvy, karena ia curiga Selvy juga menyukai Rony. Akhirnya ia punya ide jahat untuk mengetahui hal tersebut.

Ide jahatnya adalah menyuruh temannya yang bernama Yuyun untuk mencari tahu rahasia Selvy itu dengan memanfaatkan Ryan. Suatu saat Yuyun bertemu dengan Ryan dan mengobrol seperti biasa. Dan pada saat Ryan lengah akan niat jahat Yuyun, Ryan diminta memberi tahu rahasia Selvy kepadanya. Dan tanpa basa-basi Ryan pun memberi tahu rahasia Selvy kepada Yuyun tanpa berfikir lama. Tanpa disadari Ryan bahwa ia sudah dimanfaatkan oleh Yuyun. Dan ketika beberapa menit kemudian, Yuyun yang telah mengetahui informasi tersebut, segera bergegas pamitan ke Ryan untuk pergi.

Lalu tak lama kemudian ia terkejut menyadari apa yang telah ia ucapkan. Ia telah melanggar janjinya. Ia merasa telah dimanfaatkan oleh Yuyun. Dan ia pun tahu pasti Yuyun akan langsung memberi tahu Pita apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, mengingat bahwa Selvy merupakan sahabatnya mulai saat ia kelas 1 SD, ia langsung sontak pergi menemui Selvy untuk meminta maaf dan memberi tahu kecerobohannya itu agar ia tidak terjadi cekcok dengan Pita. Dan ketika ia bertemu Selvy dan ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya apa yang telah diperbuatnya. Lalu, mendengar hal itu, Selvy yang tadinya bermuka ramah, menjadi geram engan apa yang telah Ryan lakukan. Ryan yang telah mencoba minta maaf, namun Selvy tak memaafkannya. Selvy yang benar-benar marah. Ia sampai berkata kotor terhadap Ryan. Ryan yang coba untuk mengirim pesan permintaan maaf, tetapi hal tersebut berakhir dengan cekcoknya dengan Selvy. Selvy yang terus berkata Ryan itu munafik. Ryan pun yang merasa ini bukan sepenuhnya adalah salahnya, tapi juga salah Yuyun.

Pertengakaran Ryan dan Selvy berlanjut sampai batas kemarahan Selvy habis dan Selvy memutuskan hubungan persahabatan dengan Ryan. Selvy yang merasa tidak butuh dengan teman munafik, merasa Ryan telah berbuat hal yang merusak hidupnya. Ryan pun menjadi miris akan hal ini. Ia yang berharap agar tak terjadi cekcok dengan Pita, memang hal itu tidak terjadi. Namun, hal lain terjadi yang lebih buruk. Yakni cekcok persahabatan yang berakhir dengan sebuah putusnya tali persaudaraan. Ia pun menjadi amat sedih dengan kejadian tersebut.

Dan yang lebih miris adalah tak lama kejadian itu, Selvy dan Pita telah berbaikan. Dan menjadi sahabat dekat dengan Yuyun, yang telah memanfaatkan teman lamanya yaitu Ryan. Sedangkan memaafkan teman lamanya sendiri pun tak mau, akhirnya permusuhan tersebut berlangsung sampai saat Ryan dan Selvy sudah menyelesaikan masa SMP mereka.

Dan pada saat mereka sudah SMA, mereka pun berpisah di SMA yang berbeda. Dan saat lamunan berakhir karena kumandang adzan magrib bergema, ia pun mengingat dan tergetar hatinya bahwa ia telah bermusuhan dengan Selvy selama 2 tahun lebih hanya karena persoalan kecil.

“kebersamaan selama lebih dari 7 tahun harus berakhir dengan tragis dan miris hanya karena satu menit percakapan yang terasa bagai pengkhianatan teman”

By THE MAN WHO STRUGGLING HAPPINESS

Selasa, 30 Desember 2014

Banyuwangi

17:50 pm